Sajadah

Judul Buku : Sajadah 
Penulis : M Furqonul Aziz 
ISBN : 9786029788686 
Spesifikasi  : 14x20cm 
Tahun Terbit : September 2011 
Penerbit : Najah 

“Sajadah hijau terhampar begitu luas, topi-topi caping tidak pandai akting demi keperluan yang penting. Hanya bungkam seribu bahasa karena ditodong Sang Penguasa. Tak banyak bicara, karena harimau siap memangsa. Tunduk dan patuh terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat manusia, padahal yang membuatnya sendiri tidak menaati apa yang dibuat. Sengsara dan sengsara, menerima dan menerima, tipu sana tipu sini, semua kena tipu demi perut terpenuhi susu dan keju.”

***
“Tapi, kebanyakan telinga tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat-Nya, dan matanya tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, ia lupa akan dirinya. Ia lupa dari apa ia diciptakan, dari nutfah hina lagi dipancarkan, tapi tidak mau melaksanakan perintah-Nya, bukankah Allah menciptakan jin manusia untuk semata-mata beribadah kepada-Nya. Sungguh terlambat ketika keyakinan itu baru timbul saat berhadapan dengan sang Pencipta….”

***

Garis takdir Sang Pencipta menuntun Furqon, seorang pemuda desa, untuk menginjakkan kaki di ibu kota. Berbekal petunjuk Ustadz Sulaiman, guru yang mendidiknya sejak kecil, ia berkelana dalam gemerlap belantara kota, mencari seorang guru yang akan mengajarkannya ilmu sejati, ilmu yang akan menuntunnya menemui Sang Sejati, Dzat tempat asal mula setiap jiwa kembali.

Namun belum lama ia menemukan dan belajar pada sosok yang selama ini dicarinya, sang guru keburu dipanggil pulang Yang Maha Kuasa. Akhirnya, Furqon melanjutkan perjalanan hidupnya di ibu kota sambil berusaha menunaikan amanah terakhir sang guru, Ibrahim si gila, untuk menemukan putrinya dan menikahinya. 

Akankah Furqon berhasil memenuhi amanat sang guru? Bagaimana perjalanan spiritualnya hingga ia menemukan belahan jiwa yang diimpikannya? 
Simak saja kisahnya dalam novel luar biasa ini! Novel yang ditulis berdasarkan kandungan Surat as-Sajdah yang sungguh mempesona; sangat memikat dengan sentuhan bahasa sastra, kisah cinta, kritik sosial, dan alur cerita yang syarat makna.

…Sebelum ia bertempat tinggal di gunduk tanah basah berwarna merah, nisan batu menjadi tugu, ambillah harta yang tersimpan di balik tembok ratapan gereja, karena ada emas dan permata, nafkahkan harta itu ke orang-orang miskin. Jangan memberinya harta, tapi memberi apa yang dibutuhkannya, dan jangan infakkan harta itu untuk pembangunan masjid, karena masjid tidak ubahnya kuburan. Hanya sebagai hiasan tapi kosong tak bertuan.