Mengeluh dan Merasa Sempit dengan Kehidupan?

Renungan diri......

Sebagian istri ada yang mengeluhkan kehidupannya dan tidak bisa menerima penghasilan suaminya yang kurang, merasa penghasilanya lebih besar dari penghasilan suami, merasa kehidupannya kok begitu-begitu saja. Ia ingin hidup seperti Fulanah atau seperti salah seorang karib keluarganya.

Manusiawi memang jika kita mengeluh,dan tidak mudah pula jika kita dalam posisi rapuh di sarankan bersyukur, ''mana bisa bersukur kalau aku sedang rapuhhh...??'', itulah kalimat yang sering keluar jika kita sedang rapuh, galau, merasa kurang dsb.

Tapi renungkanlah, apa gunanya mengeluh?? . Sebenarnya tanpa di sadari mengeluh itu sedikit demi sedikit membawa dampak negatif kedalam diri kita, perbuatan yang membentuk karakter kita selalu ingin benar, bahwa kita di dzalimi misalnya. Ucapan pesimistis menjadikan kita cepat putus asa,pasrah terhadap keadaan,lesu untuk berusaha menghilangkan sumber keluhan. Sibuk mencari kambing hitam atas kegagalan,

Terkadang kita menjadi lupa bahwa Allah tidaklah menciptakan manusia sama rata. Allah menciptakan orang kulit putih dan orang kulit hitam, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah.


Perlu diingat bahwa 'Allah tidak selalu memberi apa yang kita minta, namun Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan'', ''selalu ada rencana manis untuk kita yang telah di siapkan Allah untuk kita, namun seberapa besarnya kamu bersyukurlah yang akan menentukanya seberapa manisnya rencana itu''


Agar kita dapat menenangkan diri hendaklah camkan dan renungi hadits berikut ini

“Lihatlah orang yang dibawahmu dan jangan lihat orang yang diatasmu, hal itu lebih baik sehingga engkau tidak menyepelekan nikmat Allah.” (HR Muslim) (baca kembali : http://rachm4wati.blogspot.com/2012/03/sawang-sinawang.html

Ingatlah selalu bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak pada harta semata. Berapa banyak wanita yang memiliki suami kaya hartanya namun bakhil perasaan dan cintanya. Sementara yang lain memiliki suami yang fakir hartanya namun kaya perasaannya dan cinta kepada istri dan rumahnya.

Hendaklah seorang istri selalu ridha menerima suaminya yang mencintai dirinya. Kebahagiaan itu bukan hanya terletak pada makanan dan minuman, bukan berhias dengan pakaian mahal, perabotan mewah, emas perak dan kendaraan yang banyak. Namun kekayaan itu letaknya dalam dada dan hati yang tenang, penuh dengan cinta dan keimanan. (Sumber : Artikel muslimah.or.id, Disalin dari buku Agar Suami Cemburu Padamu, karya Dr. Najla’ As Sayyid Nayil, Pustaka At Tibyan)