Bata demi bata, lama-lama jadi rumah Impian

Bagi sebagian orang membangun rumah seperti membalikkan telapak tangan, sim salabim, dalam dua atau tiga bulan hunian impian sudah dimiliki dan di diami. sedangakan bagi aku Menyusun Bata Demi Bata Untuk Rumah Impian bagi saya ini adalah sebuah perjuangan untuk mewujudkannya.. 

Hasil dari menjual rumah yang berada di Makassar (rumah yang aku beli dengan mencicil selama 7 tahun, saat masih bujangan dengan mengambil jatah perumahan ibuku yang seorang PNS, tepatnya di Perumahan Bumi Tamalanrea Permai Blok F No.- 35.) kugunakan untuk membeli sebidang tanah dari seorang TNI seharga Rp. 25 juta. dengan ukurn 15 x 20 Meter persegi. yang terletak di Jalan Joyo Mulyo, Gang Atthoriq No.60, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Sisa dari uang hasil penjualan rumah kami belikan bahan untuk membangun rumah impianku.
Dengan penghasilan ± 3 juta perbulan yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari kami lainnya, akupun memutuskan untuk meminjam uang di Bank BPD Kaltim Syariah, sebesar Rp.50 juta untuk menambah kekurangan pembangunan rumah Impianku.  Gaji yang pas-pasan itu sama sekali gak kompak dengan kebutuhan hidup. Soalnya saya punya dua anak  yang untuk membesarkannya menyedot sebagian besar alokasi anggaran belanja rumah tangga (alhamdulillah sehat sholeh dan sholehah keduanya). 

Bata demi bata rumah kami dirikan tanpa menggunakan tenaga bangunan bayaran, dibantu dengan Adik Iparku "Warsito" namanya dan Suamiku sendiri rumah dibangun tahap demi tahap. Sabtu dan Minggu adalah hari yang sangat padat bagi kami karena diisi dengan kegiatan membangun. akupun bertindak sebagai koki dan asisten buat ngambil-ngambilkan bahan yang dibutuhkan.

Bagi suamiku tercinta dari yang semua  tak mengerti apa-apa perihal bangun membangun, hingga akhirnya mengerti tahapan-tahapan membangun sebuah rumah merupakan hal yang tak bisa kami bayar dengan apapun, kemauan dan keinginan yang didorong oleh iparku untuk mewujudkan rumah impian kami akhirnya membuahkan hasil.

Rumah yang dibangun selama tiga tahun akhirnya dapat kami tempati tepat pada tanggal 02 Nopember 2013 (Tanggal ini sama dengan awal aku mulai berkerja di Bunga Bangsa Islamic School). Sujud syukur yang tak terkira kepada Allah yang telah memenuhi keinginan kami memiliki sebuah rumah impian dengan cara-Nya sendiri. Rumah yang kami tempati masih 75 persen jadi, keputusan untuk menempati rumah itu agar anggaran membayar sewa rumah bisa dialihkan untuk membeli bahan finishing rumah kami.

Terima kasih yang tak terkira kepada Adik-adikku Warsito dan Fatma yang sudah mau meluangkan waktunya berpeluh dan tanpa lelah membantu pembangunan rumahku, juga terima kasih buat suamiku tersayang yang telah rela berkorban demi kami anak dan istrinya. I love you, kasih kami takkan pernah berakhir hingga maut memisahkan.